Pada saat anda berencana melakukan renovasi atau membangun sebuah bangunan tentu anda sebagai pemilik bangunan tentu akan menghadapi opsi untuk Menggunakan tenaga borongan atau harian. Penggunaan tenaga borongan merupakan salah satu solusi yang sering kali dipilih pemilik proyek dalam upaya pembangunan hunian secara ekonomis. Lantas, bagaimana cara menghitung pengeluaran estimasi untuk tukang dengan sistem kerja ini agar tidak salah menganggarkan dana?
Secara umum, sistem pembayaran jasa tukang bangunan dalam metode komparasi proyek ini berbeda total dengan metode upah harian. Singkatnya, biaya tukang harian didasarkan pada absensi hari kerjanya saja, sedangkan ongkos kerja borong didasarkan pada volume bidang atau tempo waktu penyelesaian tertentu.
Perlu dicatat bahwa harga upah tenaga borongan bangunan sangat bervariasi di setiap daerah tergantung pada UMR (Upah Minimum Regional) serta kompleksitas struktur bangunan yang akan dibangun. Oleh karena itu, cara menghitungnya harus diterapkan secara tepat agar anggaran pengerjaan tidak membengkak di tengah jalan. Mari simak pembahasan selengkapnya di bawah ini.
Memahami Apa Itu Sistem Kerja Borongan dalam Proyek Konstruksi Rumah
Tenaga kerja dengan sistem borongan adalah pekerja konstruksi atau sekelompok tukang yang dibayar lunas sesuai dengan kesepakatan target volume proyek tertentu. Kontrak pengerjaannya mengacu pada kesepakatan hitam di atas putih mengenai ruang lingkup kerja sebelum fondasi mulai digali.
Umumnya, metode pemberian harga upah tenaga borongan bangunan ini terbagi menjadi dua kategori di lapangan, yaitu borongan upah tenaga saja atau borongan secara menyeluruh (sudah mencakup jasa tukang beserta penyediaan seluruh material bangunan). Adapun para pekerja nantinya akan bertanggung jawab penuh atas kecepatan dan penyelesaian fisik struktur di bawah pengawasan langsung mandor atau kepala pemborong.
Baca juga: Desain Rumah dengan Sirkulasi Udara yang Baik
Rumus Menentukan Rencana Anggaran Biaya Upah Tukang per Meter Persegi
Berbeda dengan ongkos harian, menentukan total budget sistem borongan dihitung melibatkan akumulasi dimensi bangunan dengan tarif standar jasa pemborong setempat. Berikut adalah langkah pengerjaan rumusnya:
1. Mengkalkulasikan Luas Bangunan dan Volume Pekerjaan Kontraktor
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mencari luas bangunan total dalam satuan meter persegi m2. Rumus dasarnya adalah mengalikan panjang bangunan dengan lebar bangunan. Misalnya, jika Anda ingin membangun rumah tinggal satu lantai dengan panjang 8 meter dan lebar 7 meter, maka luas total bangunannya adalah: 8 m X 7 m = 56 m2.
2. Simulasi Perhitungan Anggaran Sistem Borongan Penuh (Upah + Material)
Setelah menemukan luas total area proyek, Anda hanya tinggal melakukan operasi hitung perkalian dengan harga kontrak borong per meter persegi yang sudah disepakati dengan pihak pemborong.
Sebagai simulasi, Pak Adi ingin membangun rumah dengan luas lantai bangunan 56 m2. Pihak kontraktor menawarkan harga jasa borong penuh (sudah termasuk upah tukang dan material standar berkualitas) sebesar Rp2.500.000 per m2. Maka total harga upah tenaga borongan bangunan dan material yang harus disiapkan adalah:
Total Biaya = Luas Bangunan X Tarif Borongan per m2
Total Biaya} = 56 m2 X Rp2.500.000 = Rp140.000.000
Dengan sistem pembukuan ini, Anda sudah tidak perlu lagi memikirkan biaya harian tukang maupun risiko kenaikan harga material di tengah masa pengerjaan proyek karena semuanya sudah disepakati di awal kontrak dan disetujui oleh pihak pemborong maupun pemilik bangunan.
Baca juga: Mengenal Apa Itu Semen Curah dan Tipenya
Perbedaan Mendasar antara Metode Tukang Borongan dan Tukang Harian
Perbedaan utama kedua sistem pengupahan ini terletak pada efisiensi waktu pengerjaan serta skema manajemen pengawasannya. Tukang harian dibayar murni berdasarkan jam atau hari kerja, sementara jasa kerja borongan dibayar dengan melakukan penghitungan per meter persegi atau penyelesaian satu unit struktur bangunan.
Di samping sistem pembayarannya, karakteristik cara kerjanya bisa dibedakan berdasarkan faktor-faktor berikut:
- Aspek Keahlian Spesifik: Tukang bangunan harian biasanya dipilih manual satu per satu karena keahlian khususnya untuk pengerjaan detail interior yang halus (finishing). Sebaliknya, pekerja tim borong berfokus pada kecepatan penyelesaian struktur utama agar target durasi proyek terpenuhi.
- Manajemen Pengawasan: Kualitas pengerjaan tukang harian diawasi langsung setiap jam oleh pemilik bangunan agar pekerja tidak mengulur waktu. Pada sistem borong, pengawasan dilakukan berkala oleh kepala pemborong untuk mematangkan timeline proyek dan efisiensi modal.
- Hak dan Kewajiban Finansial: Pekerja harian mendapatkan upah rutin harian ditambah uang makan terpisah. Sementara pekerja sistem borong mendapatkan upah gelondongan yang dicairkan bertahap melalui sistem termin pencairan dana (persentase progres fisik bangunan).
6 Faktor Penting yang Mempengaruhi Harga Upah Tenaga Borongan Bangunan
Sebelum merumuskan estimasi biaya, Anda perlu memetakan beberapa komponen yang mempengaruhi tinggi rendahnya harga upah tenaga borongan bangunan di pasaran:
- Spesifikasi Material Bangunan: Jika memilih opsi borong penuh, total kualitas bahan penentu (seperti jenis besi, mutu beton, dan merek semen) otomatis mendikte total ongkos per meter persegi.
- Sewa Alat Pendukung Konstruksi: Ketersediaan alat bantu modern seperti mixer beton, mesin katrol, scaffolding, hingga gergaji mesin mempengaruhi kecepatan tukang dan komponen biaya sewa alat.
- Ukuran dan Tingkat Kesulitan Proyek: Semakin luas denah bangunan dan semakin rumit desain arsitektur bangunan yang akan dibangun akan mempengaruhi upah yang ditawarkan oleh pemborong (misalnya rumah bergaya klasik dengan banyak ornamen), maka upah yang ditawarkan pemborong akan semakin tinggi.
- Lokasi Geografis Bangunan: Standar upah wilayah perkotaan besar tentu berbeda secara signifikan dengan area pedesaan karena dipengaruhi oleh biaya hidup setempat.
- Reputasi Pemborong/Kontraktor: Tim pemborong yang memiliki track record pengerjaan rapi, bergaransi, dan minim komplain biasanya menetapkan tarif premium.
- Target Waktu Penyelesaian: Jika pemilik bangunan meminta pengerjaan proyek bangunan dipercepat (kejar tayang) dari jadwal yang sebelumnya sudah disepakati, maka pemborong akan menaikkan harga untuk membiayai lembur para tukang.
Baca juga: Cara Menghitung Kebutuhan Material Cor Beton
Rekomendasi Semen Merah Putih untuk Efisiensi Proyek Konstruksi Borongan
Salah satu kunci utama agar pengerjaan proyek borongan berjalan sukses tanpa kendala struktur retak atau keropos adalah pemilihan material pengikat utama yang andal. Komponen material semen merupakan fondasi vital untuk memperkuat bahan bangunan seperti mengikat bata, plesteran, hingga struktur beton bertulang agar bangunan berdiri kokoh dalam jangka panjang.
Bagi para pemborong dan pemilik rumah yang mendambakan hasil konstruksi bermutu tinggi dan memenuhi standar SNI, Semen Portland Komposit (PCC) dari Semen Merah Putih adalah pilihan utama. Semen Merah Putih dirancang khusus dengan formula multiguna yang menghasilkan adukan lebih rekat, mudah diaplikasikan oleh tukang, serta memiliki hasil akhir permukaan yang lebih halus dan minim resiko retak rambut pada hasil pengerjaan.
Semen Portland Komposit (PCC) Tersedia dalam kemasan praktis 40 kg dan 50 kg di toko bangunan terdekat, Semen Merah Putih siap mendukung efisiensi pengerjaan proyek borong bangunan Anda agar selesai tepat waktu dengan kualitas dinding dan struktur yang super tangguh. Hubungi tim marketing kami sekarang untuk konsultasi kebutuhan material proyek skala besar Anda!
Baca juga: Estimasi Harga Borongan Bangun Rumah Per Meter Terbaru!



