Salah satu tantangan yang paling sering dihadapi pemilik hunian adalah retakan pada dinding, terutama bagi pemilik hunian dengan tema industrial yang menggunakan dinding semen ekspos. Dinding ekspos tidak tertutup oleh lapisan cat sama sekali sehingga retakan pada dindingnya tidak dapat tertutup.
Retakan pada dinding dapat terjadi pada berbagai jenis bangunan, mulai dari hunian, kantor, hingga bangunan skala besar seperti mal atau apartemen. Penyebabnya pun beragam dengan akibat dan cara penanganan yang berbeda.
Simak artikel berikut untuk mengetahui beberapa jenis retak pada dinding, sekaligus penyebab, dan cara mengatasinya.
Jenis Retak pada Dinding
Munculnya retakan pada dinding umumnya mengindikasikan adanya masalah struktural. Namun, retakan juga dapat muncul hanya pada permukaan, yaitu pada lapisan plester. Selain itu, faktor alam seperti gempa bumi juga dapat menjadi penyebab retaknya dinding.
Berikut beberapa jenis retak pada dinding yang mungkin Anda temui:
1. Retak Rambut
Jenis retakan ini merupakan yang paling halus sehingga sering disepelekan. Retak rambut adalah retakan tipis dan halus pada permukaan dinding yang muncul secara alami.
Pada dinding beton, retak rambut disebabkan oleh beberapa faktor seperti tahap pengeringan yang terlalu cepat, perubahan suhu drastis, campuran material yang tidak sesuai, atau proses curing yang kurang ideal.
Retak rambut terlihat seperti benang tipis kurang dari 0,1 mm. Meskipun terlihat sepele, jika muncul, terutama dalam jumlah banyak dan membentang cukup panjang, retak rambut dapat memengaruhi kekuatan struktur karena zat kimia asing dan air yang terserap secara perlahan.
2. Retak Garis Memanjang
Retakan jenis ini muncul dan membentang lurus memanjang, baik dengan arah vertikal maupun horizontal.
Retakan vertikal umumnya disebabkan oleh perubahan suhu atau pergeseran alami pada dasar rumah. Kondisi ini dapat muncul pada area sambungan susunan bata atau pada titik pertemuan dua bidang dinding. Akibatnya, dapat muncul titik kebocoran yang asalnya tidak jelas atau kemiringan dinding.
Sementara itu, retakan horizontal umumnya muncul sejajar dengan jalur tanah akibat pergerakan struktur tanah atau erosi, sehingga struktur fondasi bangunan ikut bergerak dan bergeser. Jenis retakan ini tergolong serius dan perlu segera ditangani.
Baca juga: Mengenal Penyebab Korosi pada Beton dan Cara Mencegahnya
3. Retak Diagonal
Serupa dengan jenis retakan sebelumnya, retakan diagonal merupakan ciri awal permasalahan struktur fondasi bangunan. Retakan ini umumnya muncul di sudut ruangan atau di sekitar bingkai pintu dan jendela.
4. Retak Susut (Shrinkage)
Jika muncul retak susut pada permukaan dinding, Anda tidak perlu terlalu khawatir karena biasanya retak tersebut hanya muncul pada lapisan plester. Jenis retakan ini muncul akibat penyusutan plester selama tahap pengeringan.
Beberapa faktor penyebab retakan plester ini adalah pengaplikasian yang terlalu tebal, kandungan air yang terlalu tinggi, campuran dua material yang tidak cocok, serta perubahan suhu yang signifikan saat plester mengering.
5. Retak Tekan
Sesuai namanya, retak tekan muncul akibat beban berat pada struktur dinding. Umumnya retakan jenis ini muncul pada dinding atau kolom bangunan bertingkat. Jika kolom tidak mampu mendistribusikan beban dengan baik, akibatnya adalah munculnya retakan.
6. Retak Struktur
Jenis retakan ini cenderung sangat serius karena menjalar hingga ke struktur bata. Retak struktur dapat disebabkan oleh gempa bumi yang cukup kuat dan pergeseran tanah di bawah fondasi struktur.
7. Map Cracking
Sesuai dengan namanya, jenis retak ini muncul dengan pola yang tampak seperti jalanan di peta yang saling terhubung. Retakan ini muncul pada permukaan dinding beton atau pada lapisan plester.
Meskipun tidak serius, map cracking akan mengurangi estetika ruangan karena pola jaringan yang muncul terlihat cukup jelas. Retakan ini muncul akibat komposisi campuran plester dan beton yang tidak sesuai.
Baca juga: Dry Mix Mortar: Solusi Praktis untuk Berbagai Konstruksi
Cara Mengatasi Retakan pada Dinding
Apa pun faktor penyebab munculnya retakan pada dinding, situasi ini sebaiknya tidak dibiarkan dan segera diatasi. Retakan dapat menurunkan nilai estetika ruangan dan bangunan, bahkan berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Untuk jenis retakan halus seperti retak rambut, gunakan wall filler/plamir untuk mengisi celah-celahnya. Sebelum melakukan pengecatan ulang, pastikan permukaan dinding sudah diamplas terlebih dahulu.
Sementara itu, retak sudut atau garis memanjang yang disebabkan oleh pergeseran struktur dinding dapat diatasi dengan menggunakan sealant yang lentur dan fleksibel terhadap getaran, sehingga dapat mencegah dinding kembali retak di masa mendatang.
Jika retakannya cukup lebar, Anda perlu menggunakan plester atau mortar untuk mengisi celah tersebut. Untuk retakan yang lebih dalam dan utama, gunakan epoksi untuk menyatukan kembali struktur dinding.
Itulah hal-hal yang perlu Anda ketahui tentang jenis retak pada dinding. Retak dinding dapat terjadi pada dinding bangunan apa pun. Seiring bertambahnya usia bangunan, terutama pada dinding eksterior, kualitas plester dan bata dapat menurun secara alami.
Paparan sinar matahari, air hujan, serta perubahan kelembapan menjadi faktor utama yang memicu munculnya retakan tersebut, bahkan tanpa adanya dorongan dari faktor eksternal lainnya.
Untuk itu, pilihlah material plester yang sekaligus dapat melindungi dinding dari sumber kelembapan, yaitu Semen Merah Putih Watershield. Dengan teknologi water repellent yang memberikan perlindungan antirembes dari tiga sumber sekaligus (dari luar, dari dalam, dan dari tanah), semen ini dapat menjaga bangunan tetap kokoh dan minim perawatan.
Semen Merah Putih Watershield adalah semen multiguna super premium yang dapat digunakan untuk berbagai jenis aplikasi, termasuk fondasi, dak beton, cor-coran, pemasangan bata, plesteran, dan acian.
Segera hubungi Semen Merah Putih untuk konsultasi kebutuhan material proyek. Kami siap mendukung terwujudnya bangunan impian Anda dengan pelayanan dan material yang unggul dan berkualitas.
Baca juga: Efloresensi Tembok: Penyebab, Dampak, dan Cara Mencegahnya



