tips-dan-trik
21 September 2026
Ditulis Oleh Semen Merah Putih

Apa Penyebab Gen Z Susah Beli Rumah? Ini Beberapa Alasannya!

gen z susah beli rumah

Fenomena gen z susah beli rumah bukan semata karena tidak mau, melainkan adanya dorongan faktor ekonomi dan dinamika sosial yang membuat proses kepemilikan hunian terasa semakin berat.

Saat ini, Gen Z diestimasikan mencakup 27,94% dari total populasi di Indonesia dengan usia produktif 15–29 tahun. Namun kenyataannya, muncul stigma bahwa Gen Z tidak bisa beli rumah akibat laju kenaikan harga properti yang tidak seimbang dengan laju pertumbuhan pendapatan.

Dua krisis besar yang pernah mereka lewati, yaitu krisis ekonomi global 2008 dan pandemi COVID-19 juga berdampak pada kestabilan ekonomi keluarga dan kemampuan mereka untuk menabung.

Lalu, apa saja faktor fundamental yang menyebabkan Gen Z susah beli rumah dan bagaimana cara menyiasati kondisi ini secara realistis? Simak penjelasan lengkapnya pada artikel berikut.

Alasan Mengapa Gen Z Susah Beli Rumah

Salah satu alasan Gen Z susah beli rumah utama adalah harga properti yang terus meningkat setiap tahun. Kenaikan harga ini tidak sebanding dengan pendapatan sehingga membuat proses pembelian rumah menjadi lebih berat.

Rata-rata pendapatan Gen Z relatif rendah per bulannya menjadi salah satu faktor utama yang membuat mereka sulit memiliki rumah, baik dalam jangka pendek maupun panjang.

Selain faktor-faktor tersebut, terdapat beberapa alasan lain yang membuat Gen Z kesulitan membeli rumah. Berikut penjelasannya:

1. Harga Properti yang Terus Naik

Meskipun sempat melandai akibat pandemi, harga properti kembali mengalami tren kenaikan tajam dari tahun ke tahun.Kondisi ini memperlebar kesenjangan antara harga hunian dan pendapatan anak muda, sehingga memunculkan persepsi seolah gen z tidak bisa beli rumah dalam waktu dekat.

Meski pendapatan Gen Z tergolong stabil, inflasi harga lahan yang agresif membuat rumah kian sulit dijangkau tanpa strategi pembiayaan yang tepat.

2. Belum Mampu Membayar Cicilan KPR

KPR masih menjadi salah satu cara paling memungkinkan bagi generasi muda untuk memiliki rumah. Namun, survei menunjukkan bahwa 10,49% milenial belum mampu membayar cicilan KPR sehingga metode ini belum sepenuhnya dapat menjawab kebutuhan mereka.

Baca juga: Mengenal Tipe-Tipe Rumah yang Populer dan Banyak Diminati

3. Dampak dari Kemajuan Teknologi 

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kemajuan digital kini mempermudah pengajuan pinjaman, termasuk pengajuan pinjaman melalui aplikasi fintech dan layanan paylater yang sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan tatap muka. 

Namun, kemudahan ini belum diimbangi literasi finansial yang cukup sehingga berisiko mendorong Gen Z berhutang untuk memenuhi keinginan sesaat dan menimbulkan siklus hutang yang berbahaya.

Kemajuan teknologi digital ini juga bisa dilihat pada penggunaan aplikasi belanja online, pesan tiket, dan pengiriman makanan yang memudahkan masyarakat mengakses e-commerce dan promosi besar-besaran.

Transaksi memang menjadi lebih mudah, namun kebiasaan ini bisa meningkatkan kecenderungan belanja impulsif. Maka dari itu, disarankan untuk lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi agar pengelolaan keuangan tetap sehat.

4. Persaingan di Dunia Kerja

Generasi Z menghadapi persaingan ketat di pasar kerja. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2022 tercatat 937.176 pencari kerja di Indonesia sehingga membuat persaingan semakin sengit. Di sisi lain, Upah Minimum Regional (UMR) sering kali tidak sebanding dengan harga rumah. 

Di beberapa daerah, UMP bahkan hanya setengah dari harga rumah termurah sehingga memperberat Gen Z mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan yang cukup untuk membeli rumah.

5. Belum Terpikirkan Memiliki Rumah

Kebanyakan Gen Z mengaku belum memerlukan rumah, sementara milenial menyatakan belum terpikir untuk memilikinya saat ini.

Selain itu, alasan lain yang mendasari minat rendah atau ketidakmampuan generasi muda membeli rumah adalah kenaikan harga properti setiap tahun dan faktor keuangan lainnya.

6. Akses kredit yang sulit

Persyaratan kredit yang ketat dan suku bunga tinggi menjadi tantangan tambahan bagi Gen Z. Kurangnya riwayat kredit yang stabil membuat mereka sulit memperoleh persetujuan KPR.

Baca juga: 5 Cara Bisnis Properti Perumahan yang Menguntungkan, Coba!

7. Gaya Hidup Konsumtif

Gaya hidup konsumtif akibat media sosial dan keinginan mengikuti tren membuat sebagian Gen Z lebih mengutamakan hiburan dan barang mewah daripada menabung.

Tips Agar Gen Z bisa Beli Rumah

Meskipun anggapan gen z susah beli rumah didukung oleh fakta tingginya biaya hidup, generasi ini tetap bisa mulai merencanakan kepemilikan hunian pertama.

Kuncinya adalah penetapan target rasional, konsistensi menabung, serta membuka keran penghasilan tambahan. Selain itu, hindari gaya hidup konsumtif dan selesaikan utang konsumtif agar kondisi finansial lebih sehat. Berikut beberapa tips praktis yang bisa Anda terapkan.

1. Menentukan Target

Langkah pertama adalah menentukan target tabungan sesuai dengan harga rumah impian. Dengan begitu, sebagian penghasilan bulanan bisa dialokasikan untuk menabung secara rutin.

Perlu diingat, harga rumah terus meningkat setiap tahun sehingga penting juga menghitung potensi kenaikan harga rumah di masa mendatang.

2. Mulai dari Menabung

Menyisihkan sebagian penghasilan menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan dana membeli rumah. Jika selama ini menabung dari sisa gaji, sebaiknya mulai ubah kebiasaan tersebut. 

Tentukan jumlah dana yang akan disimpan sejak awal dan pisahkan menggunakan rekening berbeda. Cara ini membantu mengontrol pengeluaran dan membatasi penggunaan dana secara lebih efektif.

Baca Juga : Cara Cek Pajak Bumi dan Bangunan Online dengan Mudah

3. Mencari Penghasilan Tambahan

Selain menabung dari penghasilan utama, pertimbangkan juga penghasilan tambahan. Pendapatan ekstra ini bisa berasal dari pekerjaan sampingan, freelance, atau usaha kecil-kecilan yang nantinya akan membantu mempercepat pencapaian target tabungan untuk rumah impian. 

Dengan menambah sumber penghasilan, uang yang ditabung pun akan lebih banyak dan target bisa dicapai dalam waktu yang lebih singkat.

4. Hindari Pola Hidup Konsumtif

Jika masih terbiasa foya-foya dan mengeluarkan uang untuk hal yang tidak perlu, sebaiknya hentikan kebiasaan tersebut sekarang. Pola hidup konsumtif menjadi penghambat utama dalam menabung. 

Apabila sudah memiliki target membeli rumah, setiap pengeluaran perlu dicatat dengan baik. Dengan begitu, uang yang dihasilkan tidak terbuang sia-sia dan tabungan tetap optimal.

5. Melunasi Hutang

Sebelum mulai menabung, sebaiknya lunasi terlebih dulu semua utang atau kredit. Utang bisa menjadi beban yang menyulitkan pengelolaan keuangan. Setelah utang lunas, Anda bisa lebih fokus menyisihkan dana untuk membeli rumah impian.

Baca Juga : Laporan Keuangan Kontraktor: Jenis, Panduan & Contoh

Strategi Membeli Starter Home (Solusi Rumah Pertama untuk Gen Z)

Salah satu alasan Gen Z menunda membeli rumah adalah anggapan bahwa properti pertama harus langsung besar, mewah, dan berlokasi di pusat kota. Mengubah pola pikir ke strategi Starter Home adalah kunci masuk ke pasar properti lebih cepat:

1. Mulai dari Properti Kompak (Micro Housing)

Jangan ragu membeli rumah tipe kecil (seperti Tipe 21, 30, atau 36) di area penyangga kota yang terhubung transportasi publik (KRL/LRT). Properti kecil memerlukan uang muka dan cicilan bulanan yang jauh lebih masuk akal dengan standar gaji pertama.

2. Manfaatkan Properti sebagai Aset Pembuka (Property Ladder)

Tujuan utama starter home bukan untuk ditempati seumur hidup, melainkan sebagai tangga investasi pertama. Beli rumah kompak, tinggali atau sewakan selama 5–7 tahun. Saat nilai capital gain (kenaikan harga properti) sudah terkumpul, Anda bisa menjualnya untuk dijadikan modal DP rumah impian yang lebih besar.

3. Pertimbangkan Konsep Tumbuh (Incremental House)

Pilih pengembang yang menawarkan rumah dengan sisa lahan di bagian belakang. Konsep rumah tumbuh memungkinkan Gen Z membangun ruang tambahan (seperti kamar ekstra atau area kerja) secara bertahap di masa depan sesuai dengan pertumbuhan penghasilan.

Baca Juga : Renovasi Rumah Minimalis: Tips, Ide, dan Estimasi Biayanya

Pahami Fitur KPR dan Insentif Properti agar Cicilan Terjangkau

Membeli rumah tidak melulu harus secara tunai. Menguasai skema pembiayaan KPR membuat anggaran bulanan tetap aman tanpa mengganggu kebutuhan hidup:

1. Manfaatkan Program KPR Subsidi dan Insentif Pajak

Cari tahu skema KPR subsidi pemerintah (seperti Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan / FLPP) yang menawarkan suku bunga tetap hingga 5% sepanjang tenor pinjaman. Selain itu, manfaatkan program insentif seperti PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) saat membeli rumah baru dari pengembang.

2. Pilih Suku Bunga Fixed Berdurasi Panjang

Saat mengambil KPR komersial, perhatikan penawaran bunga fixed (misalnya bunga tetap 3–5 tahun pertama). Jangan tergiur suku bunga promo yang sangat rendah di tahun pertama jika suku bunga mengambang (floating rate) di tahun berikutnya melonjak tajam melebihi batas kemampuan bayar Anda.

3. Batasi Rasio Cicilan Maksimal 30% dari Total Penghasilan

Hitung rasio utang (Debt Service Ratio) Anda secara akurat. Pastikan total cicilan KPR dan utang lainnya tidak melebihi 30% dari penghasilan bersih bulanan (take-home pay). Hal ini penting agar cicilan rumah tidak memicu stres keuangan atau mematikan dana darurat Anda.

Memahami berbagai alasan mengapa Gen Z susah beli rumah dapat membantu Anda sadar bahwa tantangannya tidak hanya pada kemampuan finansial, tetapi juga kestabilan ekonomi dan biaya pembangunan yang terus meningkat. 

Untuk itu, saat kesempatan untuk memiliki rumah akhirnya datang, baik sebagai hunian pribadi maupun bagian dari investasi, pemilihan material konstruksi yang tepat menjadi hal penting untuk menjaga kualitas bangunan dalam jangka panjang.

Salah satu pilihan yang dapat mendukung pembangunan rumah yang kuat dan tahan lama adalah produk dari Semen Merah Putih.

Anda dapat menggunakan Semen Merah Putih Watershield dengan teknologi water-repellent-nya yang mampu membantu mencegah rembesan air dan mengurangi risiko tumbuhnya jamur pada dinding. 

Selain itu, kebutuhan beton untuk konstruksi juga bisa dipenuhi melalui Merah Putih Beton yang menyediakan rangkaian produk, seperti Beton Precast dan Beton Ready Mix. 

Jika Anda berencana memulai pembangunan atau menyiapkan hunian di masa depan, dukungan bahan bangunan yang berkualitas akan sangat diperlukan. 

Hubungi kami untuk informasi lebih lanjut dan dapatkan solusi konstruksi yang terpercaya untuk mewujudkan hunian impian Anda!

Baca juga: 11 Ide Desain Toko Kecil Depan Rumah yang Cocok untuk Usaha

Bagikan
X

Artikel Terkait